Perbedaan Antara Wanprestasi Dan Delik Penipuan Dalam Hubungan Kontraktual

Ilustrasi

Ilustrasi

Sudah seperti hal biasa, jika seorang kesulitan untuk meminta pelaksanaan prestasi dari pihak lain, maka upaya yang ditempuh adalah melaporkan peristiwa itu ke Polisi dengan tuduhan penipuan (vide Pasal 378 KUHP). Ada beberapa hal yang menjadi motivasi orang untuk mengambil jalan pintas seperti itu, mulai dari sekedar ingin menakut-nakuti agar seseorang melaksanakan prestasinya, sampai dengan benar-benar bertujuan untuk memenjarakan seseorang karena sudah terlalu kesal dengan tindakan yang selalu mangkir dari kewajibannya

Lemahnya pemahaman para penegak hukum tentang karakteristik wanprestasi dan delik penipuan juga menjadi penyebab terjadinya miss prosedural dalam penanganan kasus-kasus yang timbul dari hubungan kontraktual. Hal itu sering terjadi karena ada beberapa unsur dalam delik penipuan yang memiliki kemiripan dengan wanprestasi dalam suatu perjanjian. Sehingga jika tidak dilakukan penelaahan secara cermat terhadap sifat dan substansinya, maka akan tersesat pada kesimpulan bahwa antara wanprestasi dan delik penipuan memiliki unsur perbuatan materiil yang sama.

Dimana letak perbedaannya…..?
Read more ›

Ditulis dalam Uncategorized

Turunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kepada Tersangka/Saksi

ilustrasi

ilustrasi

Penyidikan menurut ketentuan Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang  Hukum Acara Pidana (“KUHAP”) diartikan sebagai tindakan Penyidik (Pejabat Polisi atau Pegawai Negeri Sipil yang diberi wewenang khusus untuk menyidik) dalam hal dan menurut cara yang yang diatur dalam KUHAP untuk mencari dan mengumpulkan bukti guna membuat terang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

Penyidikan sifat yang “tertutup”, atau dengan kata lain, isi dari keterangan Saksi atau Tersangka dalam tingkat Penyidikan, yang dituangkan dalam BAP tersebut, bukanlah untuk diketahui umum (konsumsi publik).

Secara hukum, hanya Tersangka yang boleh meminta turunan/salinan BAP yang telah ditandatanganinya, yaitu hanya untuk disimpan Tersangka/Penasihat Hukumnya sendiri untuk kepentingan pembelaannya. Adapun dasar hukumnya telah diatur dan ditegaskan dalam Pasal 72 KUHAP, yang berbunyi sebagai berikut:

Read more ›

Ditulis dalam Uncategorized

Alat Bukti Digital (digital evidence)

Digital Forensic

Digital Forensic

DIGITAL FORENSIC SCIENCE
Digital Forensic, jika berhubungan di komputer dan file digital, maka ada kecenderungan mengarah ke “Computer Forensic”. Computer Forensic Science adalah cabang ilmu forensik digital yang berkaitan dengan bukti hukum yang ditemukan di komputer dan media penyimpanan digital.

Tujuan dari komputer forensik adalah untuk memeriksa media digital secara forensik dengan tujuan mengidentifikasi, mengamankan, memulihkan, menganalisis dan menyajikan fakta dan opini tentang informasi.
Bukti forensik komputer bisa digunakan untuk bukti di pengadilan, tentunya yang otentik dan bisa dipertanggungjawabkan.

Teknik Penyelidikan Forensik
Beberapa teknik digunakan pada investigasi forensik komputer, diantaranya:

Read more ›

Ditulis dalam Uncategorized

Delik Aduan

Ilustrasi

Ilustrasi

Delik adalah terjemahan dari kata Strafbaar feit. Menurut Samidjo delik adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia yang bertentangan dengan undang-undang atau peraturan hukum lainnya, yang dilakukan dengan sengaja atau dengan salah (schuld), oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan.

a.    Pengertian Tindak Pidana Aduan

Pada kejahatan terdapat sejumlah tindak pidana yang hanya dapat dituntut apabila ada pengaduan dari orang yang dirugikan. KUHP secara tegas tidak memberikan pengertian tentang apa yang dimaksud dengan tindak pidana aduan. Tindak pidana aduan sering disebut juga delik aduan. Pengertian dan defenisi yang jelas dapat ditemui melalui argumentasi dari para pakar di bidang ilmu hukum pidana, antara lain:

Read more ›

Ditulis dalam Uncategorized